Chikungunya berasal dari bahasa Shawill yang berarti Yang Berubah Bentuk
atau Bungkuk mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (
Arthralgia ), Nyeri sendi ini menurut lembar data keselamatan ( MSDS ) Kantor Keamanan
Laboratorium Kanada, terutama terjadi pada Lutut, Pergelangan Kaki serta Persendian
Tangan Dan Kaki.
Gejala Demam Chikungunya mirip dengan Demam Berdarah Dengue yaitu Demam yang
tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot serta bintikbintik
merah pada kulit terutama badan dan lengan. Bedanya dengan demam berdarah
dengue, pada chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan ( Schok ) maupun kematian.
Masa inkubasi dari demam Chikungunya dua sampai empat hari. Manifestasi penyakit
berlangsung tiga sampai 10 hari . Virus ini termasuk Self Limiting Disease alias hilang
dengan sendirinya. Namun rasa nyeri masih tertinggal dalam hitungan minggu sampai bulan.
Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk Chikungunya. Cukup minum obat penurun panas
dan penghilang rasa sakit yang bisa dibeli di warung, yang penting cukup istirahat, minum dan
makanan bergizi , saran Thomas.
Menurut situs Universitas Standford, virus Chikungunya masuk keluarga Togaviridae, genus
alphavirus, dan ditularkan Nyamuk Aedes Aegypti. Virus ini terus menimbulkan epidemi di
wilayah tropis Asia dan Afrika sejak diidentifikasi tahun 1952 di Afrika Timur. Di Indonesia
Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit
di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Tahun 1983 merebak di martapura, ternate dan
Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa ( KLB )
demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan
Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi ( Jawa Barat ), Purworejo dan Klaten (
Jawa Tengah ) tahun 2002. Dari literatur yang saya baca, memang ada gelombang epidemi 20
tahunan. Mungkin terkait perubahan iklim dan cuaca, ujar Thomas. Penjelasan lain, menurut
situs Keamanan Laboratorium Kanada, antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat
penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu, perlu waktu panjang
bagi penyakit ini untuk merebak kembali. Menurut Thomas dan Rita, tak ada cara lain untuk
mencegah Demam Chikungunya kecuali mencegah gigitan nyamuk serta memberantas tempat
perindukan nyamuk dengan tiga M ( Menutup, Menguras dan Mengubur barang bekas yang
bisa menampung air ) atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana
mencegah Demam Berdarah.Demam ChikungunyaVirus Chikungunya pertama kali diidentifikasi di Afrika Timur tahun 1952. Tidak heran bila
namanya pun berasal dari bahasa Swahlii, Artinya adalah yang berubah bentuk atau bungkuk,
Postur penderitanya memang kebanyakan membungkuk akibat nyeri hebat di persendian
tangan dan kaki. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan
oleh Nyamuk Aedes Aegypti. Gejalanya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit
kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan, meski
gejalanya mirip dengan Demam Berdarah Dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan
hebat, renjatan ( Schok ) maupun kematian. Masa inkubasi : dua sampai empat hari,
sementara Manifestasinya tiga sampai sepuluh hari. Virus ini tidak ada vaksin maupun obat
khususnya, dan bisa hilang sendiri, namun, rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari
sampai berbulan-bulan.Chikungunya, SARS, Lalu Apa Lagi..?BELAKANGAN ini makin sering berbagai penyakit hewan dari tengah hutan yang merebak
(istilah yang dipakai spill over) ke permukiman penduduk. Sebutlah di antaranya St Louis
Encephalitis dan Sungai Nil Barat (West Nile), yang telah menimbulkan banyak korban.
Peredaran virus memang tak bisa lagi dibatasi oleh posisi geografi. Hutan yang tadinya
tertutup menjadi terbuka, daerah yang dulu terisolir kini bisa dengan mudah berhubungan ke
mana saja. Moda perpindahan virus bisa berupa apa saja.
Virus Sungai Nil Barat misalnya, berhasil menyeberang dari Afrika ke Amerika bersama migrasi
burung. Atau virus Marburg yang sempat masuk ke Eropa lewat monyet-monyet percobaan
asal Afrika Tengah. Makin mudahnya transportasi adalah faktor lain yang mempercepat pola
penyebaran mikro-organisme patogen. Manusia yang sudah terkena spill over, penyakit hewan
yang pindah ke manusia, membawa virus ini ke berbagai kawasan yang dikunjunginya.
Terakhir yang dengan cepat merebak adalah sindrom pernapasan akut parah (SARS). Setelah
diidentifikasi, diketahui penyebabnya adalah coronavirus. Meski di Indonesia belum ditemukan
kasusnya, kepanikan sudah melanda sebagian masyarakat. Padahal, penyakit hewan yang
disebabkan oleh virus jenis corona, juga ada di Indonesia.ChikungunyaBeberapa minggu sebelum kasus SARS merebak, masyarakat Indonesia direpotkan dengan
kasus chikungunya. Virus penyebabnya tergolong dalam Famili Togaviridae, yang belum
diketahui pola masuknya ke Indonesia.
Sekitar 200-300 tahun lalu virus chikungunya (CHIK) merupakan virus pada hewan primata di
tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah
bangsa baboon (Papio sp), Cercopithecus sp. Siklus di hutan (sylvatic cycle) di antara satwa
primata dilakukan oleh nyamuk Aedes sp (Ae africanus, Aeluteocephalus, Ae opok, Ae.
furciper, Ae taylori, Ae cordelierri). Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus
baru berhasil dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953. Baik virus maupun
penyakitnya kemudian diberi nama sesuai bahasa setempat (Swahili), berdasarkan gejala
pada penderita. Maka hadirlah chikungunya yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau
melengkung (that which contorts or bends up). Setelah beberapa lama, perangai virus
chikungunya yang semula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satwa primata, dapat pula
bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya
seperti itu. Di daerah permukiman (urban cycle), siklus virus chikungunya dibantu oleh nyamuk
Ae aegypti. Beberapa negara di Afrika yang dilaporkan telah terserang virus chikungunya
adalah Zimbabwe, Kongo, Burundi, Angola, Gabon, Guinea Bissau, Kenya, Uganda, Nigeria,
Senegal, Central Afrika, dan Bostwana. Sesudah Afrika, virus chikungunya dilaporkan di
Bangkok (1958), Kamboja, Vietnam, India dan Sri Lanka (1964), Filipina dan Indonesia (1973).
Chikungunya pernah dilaporkan menyerang tiga korp sukarelawan perdamaian Amerika (US
Peace Corp Volunteers) yang bertugas di Filipina, 1968. Tidak diketahui pasti bagaimana virus
tersebut menyebar antarnegara. Mengingat penyebaran virus antarnegara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk.
Hasil penelitian terhadap epidemiologi penyakit chikungunya di Bangkok (Thailand) dan
Vellore, Madras (India) menunjukkan bahwa terjadi gelombang epidemi dalam interval 30
tahun. Satu gelombang epidemi umumnya berlangsung beberapa bulan, kemudian menurun
dan bersifat ringan sehingga sering tidak termonitor. Gelombang epidemi berkaitan dengan
populasi vektor (nyamuk penular) dan status kekebalan penduduk. Pengujian darah
(serologik) penyakit chikungunya sering tidak mudah karena serum chikungunya mempunyai
reaksi silang dengan virus lain dalam satu famili. Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu
beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM
capture ELISA.Virus lainVirus yang termasuk Famili Togaviridae tidak hanya terdapat di Afrika, tetapi juga di Australia
dan Amerika. Salah satu virus dari Australia yang mempunyai kemiripan gejala klinik dengan
chikungunya adalah virus Ross River, menimbulkan penyakit epidemic polyarthritis (EP).
Tahun 1943, EP mewabah di Australia Bagian Utara (Northern Territory). Dari Australia
penyakit ini menyebar ke pulau-pulau di Lautan Pasifik, termasuk Kepulauan Bismark, New
Guinea, Solomon, Pulau Rossel, Fiji, Samoa, Wallis, Futuna, Kaledonia Baru , dan Kepulauan
Cook. Pada wabah di Fiji jumlah orang terserang mencapai 50.000. Meskipun tidak bersifat
fatal, penyakit ini sangat mengganggu karena penderitaan pasien dapat berlangsung
beberapa minggu sampai beberapa bulan. EP perlu diwaspadai, terutama untuk daerah
Indonesia bagian timur yang berdekatan dengan Australia.Di Afrika masih ada lagi penyakit virus dengan gejala mirip chikungunya, yakni virus O? nyong
nyong (ONN). Istilah "o? nyong-nyong" diambil dari bahasa daerah di Acholi, Uganda, berarti
kelemahan sendi. Penyakit ini ditemukan pertama kali di Uganda tahun 1954, kemudian
menyebar ke Kenya, Tanzania, Malawi, dan Mozambik. Pada wabah tahun 1954 diperkirakan
jumlah penderita dua juta orang. Meskipun demikian, penyakit ini dinilai lebih ringan
dibandingkan dengan chikungunya. Dari Amerika ada 3 penyakit virus dalam Famili
Togaviridae yang perlu dicatat, yaitu Eastern Equine Encephalitis (EEE), Western Equine
Encephalitis (WEE), dan Venezuelan Equine Encephalitis (VEE). Penyakit ini lebih menonjol
pada kuda dibandingkan pada manusia, sehingga dipergunakan istilah "equine" yang berarti
kuda. Apabila pada chikungunya dan ONN gejala menonjol adalah radang sendi, ketiga
penyakit menimbulkan radang otak (encephalitis). Virus-virus ini juga menimbulkan penyakit
parah, bahkan bisa fatal pada kuda dan manusia. EEE tersebar di Pantai Timur Amerika, mulai
dari bagian selatan Kanada sampai utara Amerika Selatan. WEE terdapat di Pantai Barat
Amerika, sedangkan VEE di Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, ke Utara sampai Meksiko
dan Texas. Sebagai gambaran keganasan wabah EEE tahun 1938 menyebabkan 184.000 ekor kuda
terserang dengan angka kematian 90 persen, WEE menyerang 6.000 ekor kuda di California
tahun 1930 dan 50 persennya mati.
Pada orang, EEE dapat menimbulkan kematian antara 50-75 persen dari jumlah yang
terserang. Mereka yang sembuh banyak yang mengalami kelumpuhan. Dari ketiga virus, VEE
telah ada vaksinnya. Namanya TC-83 dan sudah digunakan pada kuda maupun manusia
dengan hasil baik. Di Amerika Selatan VEE punya gelombang epidemi sekitar 10 tahun. Di
alam bebas, virus WEE dan EEE dilestarikan dalam siklus burung-nyamuk-burung. Pada VEE
siklus rodensia-nyamuk-rodensia. Penularan ke manusia dilakukan oleh nyamuk antara lain
Aedes sp. Selama musim dingin ketika nyamuk tidak ada, ketiga virus "bersembunyi" pada
rodensia, reptilia dan amphibia.
YANG terakhir tentu saja adalah coronavirus yang menghebohkan itu. Sebenarnya ada dua
virus corona yang menimbulkan penyakit serius (parah) pada hewan dan menimbulkan
kerugian ekonomi cukup besar. Yang pertama adalah penyakit infectious bronchitis (IB) pada
ayam. Kematian pada anak ayam umur 2 hari-4 minggu dapat mencapai 90 persen. Penyakit
ini ditandai oleh depresi atau lesu, mulut selalu membuka dan menutup karena ada kesulitan
bernapas. Penyakit ini tersebar luas di dunia, termasuk Indonesia, namun dapat dikendalikan lewat vaksinasi teratur. Yang kedua, penyakit transmissible gastro-enteritis (TGE) pada babi.
Penyakit ini ditemukan di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Australia. Gejala yang
menyolok pada anak babi adalah diare akut, muntah, dan dehidrasi (kekurangan cairan
tubuh). Anak babi yang diserang umumnya mati dalam tempo 5-7 hari. Vaksin TGE juga telah
ditemukan. Di Indonesia TGE belum dilaporkan secara resmi, namun ancaman penyakit yang
mematikan ini selalu ada.GlobalisasiPada zaman yang serba cepat seperti sekarang-seseorang hari ini dapat berada di Amerika
atau Afrika, dan esok harinya sudah tiba di Bali atau Jakarta-penyebaran virus amat
dimungkinkan. Orangyang tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke
Indonesia. Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat pula
berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada. Perdagangan satwa langka yang cukup
mendapat sorotan beberapa waktu lalu, bukan tidak mungkin membawa serta virus dari hutan
ke tempat yang jauh di negeri orang. Belum lagi nyamuk yang menyelundup ke dalam kabin
pesawat terbang. Dengan kata lain, sangat banyak jalur yang dapat dilalui oleh penyakit untuk
mencapai daerah baru. Diperlukan kesiapan sumber daya manusia dan kelengkapan
laboratorium, dana, serta kemauan agar dapat menjawab penyakit yang sering disebut
misterius.(Soeharsono, Dokter hewan di Denpasar)
Lajak Ju .... - DEMAM CHIKUNGUNYA


